Pendidikan dan Pelatihan Teknis SMK Mampu Kurangi Pengangguran Kaum Muda

Pendidikan dan Pelatihan Teknis SMK Mampu Kurangi Pengangguran Kaum Muda

 

Banda Aceh-Program pengembangan ekonomi berkelanjutan melalui pendidikan dan pelatihan teknis kejuruan (SED-TVET), yang digagas Pemerintah Jerman dengan Pemerintah Indonesia tiga tahun lalu, berdampak baik hingga mampu mengatasi pengangguran bagi kaum muda di Provinsi Aceh.

 

Kerjasama bidang ini karena dipandang pendidikan kejuruan sebagai masukan utama bagi pemulihan ekonomi.Sebab, ketrampilan kejuruan berorientasi pasar sangat penting bagi masyarakat, khususnya kaum muda, untuk mendapatkan pekerjaan atau dalam memulai usahanya.

 

Tujuan kerjasama tersebut adalah untuk mengurangi pengangguran dikalangan kaum muda dengan meningkatkan pendidikan dan sekaligus memenuhi syarat dari dunia industri.Ini mencakup diperkenalkannya pelatihan berbasis kompetensi, peningkatan proses pembelajaran, dan penyediaan fasilitas.

 

Indonesia dan Jerman dapat memberikan kontribusi berupa pengalaman penting dari sekolah teknik dan kejuruan serta dari sektor pelatihan teknik dan kejuruan.Program SED-TVET dikembangkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi melalui link and match sekolah dengan industri.

 

“Oleh karena itu, kami menyadari bahwa Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) merupakan sarana penting dalam pendidikan teknik dan kejuruan, khususnya di provinsi Aceh dan pulau Nias,” ujar Mustaghfirin Amin, Direktorat Pembinaan SMK, Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah, Kemendikbud, belum lama ini, dalam penutupan program dimaksud di Hermes Palace Hotel, Kota Banda Aceh.

 

Ia menyatakan, program pengembangan Ekonomi berkelanjutan melalui pendidikan dan pelatihan teknis dan kejuruan (SED-TVET) telah berhasil dalam menciptakan lapangan kerja melalui penguatan ketrampilan usaha dan penyelarasan kembali pendidikan dalam rangka memenuhi kebutuhan dunia industri.Sasaran program ini adalah sekolah-sekolah kejuruan terpilih di Aceh dan Nias.

 

“Atas nama Direktorat Pembinaan SMK, kami ingin mengucapkan selamat dan menyampaikan terima kasih kepada GIZ, GFA Consulting Group dan Asian Management Consulting, sepuluh sekolah pilot dan delapan dinas pendidikan yang menjadi pilot di Aceh dan Nias, serta lembaga lain terkait,” katanya.

 

Pihaknya menaruh harapan, bahwa pengalaman keberhasilan tersebut memperkuat pendidikan dan pelatihan teknik dan kejuruan (TVET), khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Aceh dan Nias.

 

“Sehingga dapat memberikan inspirasi pada semua pemangku kepentingan, pemerintah daerah serta lembaga lainnya, untuk membangun harapan bagi masa depan generasi bangsa,” harapnya.

 

Komit Beri Dukungan

Sementara itu, Ulrich Mohr,Direktur GIZ untuk Indonesia, Timor Leste dan ASEAN, mengatakan, setelah Tsunami dahsyat pada Desember 2004, Pemerintah Jerman berkomitmen untuk memberikan dukungan kepada Indonesia dalam upaya rekonstruksi yang dilakukannya.

 

“Kedua pemerintah ini bekerja bersama dalam rangka rehabilitasi dan modernisasi pendidikan dan pelatihan teknik dan kejuruan (TVET) di Aceh dan Nias.Tujuannya adalah meningkatkan peluang kaum muda untuk mendapatkan pekerjaan yang memadai dan dengan demikian, memberikan sumbangan bagi pemulihan ekonomi,” terangnya.

 

Dalam kurun waktu empat tahun, lanjut dia, sebanyak sebelas sekolah telah dibangun kembali dan upaya pengembangan sumberdaya manusia yang komprehensif telah direalisasikan.

 

“Dalam konteks politis dan administratif, program tersebut tidak hanya berkontribusi pada penurunan kemiskinan, namun juga melalui program pendidikan bagi mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka-GAM,” lanjutnya.

 

Menurutnya, program dimaksud juga memberikan dampak yang signifikan pada pembangunan suasana damai, faktor keberhasilan utama pada waktu itu adalah pengintegrasian bantuan keuangan dan bantuan teknis dan kerja sama yang erat dengan pemerintah daerah.

 

“Pada tahun 2010, untuk melanjutkan proses rehabilitasi yang sukses itu, kegiatan-kegiatan GIZ di Aceh dan Nias dimasukkan dalam program baru Indonesia-Jerman yakni Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan melalui Pendidikan dan Pelatihan Teknis dan Kejuruan atau SED-TVET,” tukasnya.

 

Ia menerangkan lagi, program itu bertujuan meningkatkan kerangka peraturan TVET, memperlancar transisi dari dunia sekolah ke dunia kerja, mendorong diterapkannya kualifikasi berbasis industri dan memfasilitasi peningkatan 23 lembaga pendidikan terpilih (SMK, BLK, dan Politeknik) di Jawa, Sulawesi dan Kalimantan.

 

“Untuk melengkapi upaya kerjasama sebelumnya, fokus di Aceh dan Nias diarahkan pada konsolidasi pengelolaan dan pengembangan jejaring TVET antara pemangku kepentingan terkait di daerah,” terang dia lagi.

 

Lulusan SMK Harus Cakap

Gubernur Aceh, Dr. H. Zaini Abdullah, mengatakan, atas upaya rehabilitasi dan rekonstruksi dan bantuan teknis bagi lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan formal dan non formal melalui Deutsche Gesellchaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) dan Bank Pembangunan Jerman (KFW) di Aceh dan Nias setelah Tsunami pada tahun 2004, menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Pemerintah Jerman.

 

Menurutnya, proyek Consolidation of TVET Management in Aceh and Nias, sebagai bagian dari program GIZ, yakni Sustainable Economic Development through Technical and Vocational Education and Training (SED-TVET), dengan tujuan untuk mengoptimalisasikan kesinambungan kontribusi Jerman dengan memperkuat pendidikan ketrampilan berorientasi pada permintaan dunia kerja dan kecakapan kerja lulusan SMK.

 

“Semboyan kami di provinsi Aceh adalah mendidik siswa SMK yang mampu (cakap), percaya diri dan memiliki daya saing.Program SED-TVET mendukung upaya ini dengan meningkatkan proses pengelolaan di sepuluh SMK yang direhabilitasi dan dinas Pendidikan di dua provinsi dan enam kabupaten/kota,” papar Dr. Zaini Abdullah.

 

Ia menyebutkan, cakupan tersebut meliputi, pengembangan dan pengenalan rencana strategis (Renstra) pendidikan kejuruan serta peningkatan kerjasama antara pemangku kepentingan dari sektor pemerintah dan sektor swasta.

 

“Beberapa prakarsa pilot lain yang patut disebutkan dan lebih lanjut dipaparkan yaitu, dukungan dalam rangka pembentukan forum TVET di Aceh, pengembangan tiga SMK di Aceh sebagai SMK unggulan yang memberikan konsultasi bagi SMK lainnya, akreditasi bengkel kerja (workshop) SMK sebagai Tempat Uji Kompetensi (TUK) dan dukungan untuk mengembangkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk sektor Pariwisata,” sebutnya.

 

Sambut Baik

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Anas M. Adam, M.Pd, juga menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Jerman atas dukungan teknis Jerman paska Tsunami 2004 yang diberikan sejak 2005 sampai 2014 melalui dua program.

 

“Pertama, rehabilitasi dan pembangunan kembali sekolah-sekolah menengah kejuruan di Aceh dan Nias, dan kedua, konsolidasi pengelolaan TVET pada SMK yang direhabilitasi dan dinas pendidikan terkait melalui program SED-TVET,” tuturnya.

 

Masih kata Anas, dibawah program kedua itu, yang dilaksanakan oleh GFA Consulting Group dan Asian Management Consulting, Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) disosialisasikan dan berhasil dipilotkan melalui berbagai upaya dan prakarsa.

 

“Ini mencakup upaya peningkatan mutu pengelolaan TVET, diperkenalkannya penilaian dan pelatihan berorientasi pasar dan berbasis kompetensi, dan pembentukan lembaga atau wadah untuk mengembangkan jejaring di kalangan pemangku kepentingan TVET,”sambung Anas.

 

Atas capaian yang telah diraih oleh proyek tersebut, ia memberikan perhatian khusus pada keberhasilan kepada 20 siswa dari kelompok angkatan pertama dan yang telah lulus penilaian berbasis kompetensi dan menerima sertifikat ketrampilan yang diakui secara nasional yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

 

“Semakin meningkatnya proses internasionalisasi dan globalisasi, mendorong ditetapkan patokan (bench-mark) baru bagi masyarakat dan industri, dan juga bagi pelatihan dan pendidikan kejuruan,”lanjut dia.

 

Oleh karena itu, menurutnya lagi, TVET dan pelatihan selanjutnya perlu dikaitkan dengan perkembangan internasional dan perkembangan industri.Kurikulum perlu menjadi lebih berbasis kompetensi dan kompetensi khusus menjadi semakin penting dan perlu menjadi sasaran perhatian sektor pendidikan.

 

“Kompetensi itu, misalnya, ketrampilan berbahasa asing dan kompetensi antar budaya.Agar siap mengahadapi masa depan dengan baik, Dinas Pendidikan Provinsi Aceh menengarai bahwa, melalui sektor pelatihan dan pendidikan kejuruan akan memainkan peranan penting dan seluruh pemangku kepentingan perlu memberikan perhatian lebih serius,” tutupnya.

 

Jalan Panjang Kearah Lebih Baik

Koordinator Project Management Unit, Nailul Authaar, menjelaskan, kerjasama antara Pemerintah Jerman dan Indonesia melalui program SED-TVET di Aceh dan Nias diawali dengan lokakarya perencanaan partisipatoris pada bulan November 2011.

 

“Seluruh pemangku kepentingan TVET diundang untuk menyampaikan masukan dan harapan mereka mengenai bagaimana meningkatkan pengelolaan TVET di sekolah-sekolah, kabupaten/kota dan provinsi yang menjadi pilot,”jelasnya.

 

Salah satu dari permohonan adalah pembentukan Project Management Unit dengan anggota dari seluruh kelompok pemangku kepentingan.Lembaga ini dibentuk pada bulan Desember 2011 dan sejak saat itu menjadi pemandu bagi kegiatan proyek.

 

Melalui unit manajemen yang dibentuk itu, kami mendiskusikan, menyepakati dan mengembangkan semua kegiatan proyek bersama dengan konsultan SED-TVET sejak awal.

 

Sebagai pimpinan Project Management Unit, Ia mengaku dengan senang hati menyampaikan bahwa proyek SED-TVET di Aceh dan Nias telah berhasil mencapai tujuan dan indikator yang telah ditetapkannya.

 

Sungguh jelas bahwa kemampuan manajemen dari seluruh sekolah menengah kejuruan dan dinas pendidikan yang menjadi target program ini telah meningkat dengan adanya dukungan proyek ini.

 

Semakin menguatnya jaringan antar lembaga TVET menjadi keberhasilan lain yang menonjol dari kerjasama ini.Pengalaman dan praktek terbaik yang penting telah dihimpun dari proyek untuk direplikasikan.

 

Dalam rangka meningkatkan TVET di Aceh dan Nias secara berkesinambungan, ia merekomendasikan beberapa hal, meliputi, pertama, riset TVET hendaknya dilakukan dan tindakan lanjutan hendaknya diambil sesuai dengan temuan-temuan dari riset tersebut.

 

Kemudian, sebut dia, program pelatihan hendaknya dimutakhirkan sesuai dengan permintaan pasar kerja/lapangan kerja.Ketiga, sistem penilaian dan kualifikasi nasional hendaknya diarus utamakan diseluruh sekolah menengah kejuruan.

 

Kelima, pelatihan manajemen lanjutan hendaknya dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas manajemen TVET.Keenam, dukungan praktis kepada guru-guru sekolah kejuruan melalui pemberian ToT (Pelatihan bagi pelatih), informasi yang mutakhir dan bimbingan yang dilakukan terus-menerus.

 

Sebagaimana diketahui, dalam program tersebut, sebanyak delapan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Provinsi Aceh, masuk dalam pembinaan program pengembangan ekonomi berkelanjutan melalui pendidikan dan pelatihan teknis kejuruan (SED-TVET).

 

Kedelapan SMK tersebut yaitu, SMKN 1 Banda Aceh, SMKN 2 Banda Aceh, SMKN 3 Banda Aceh,  SMKN 1 Jeunieb, SMKN 1 Blang Pidie, SMKN 1 Sinabang, SMKN 3 Sinabang dan SMKN 4 Sinabang.

 

Kebutuhan Industri

Team Leader GFA, Wanda Moenning, mengatakan,  program SED-TVET di Aceh dan Nias dirancang setelah tahapan rekonstruksi pasca Tsunami berakhir pada tahun 2010 dan menitik beratkan pada upaya mendukung manajemen TVET agar berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan industri yang semakin global dan berubah dengan cepat pada abad ke-21.

 

“Berdasarkan pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), bidang-bidang intervensi yang berorientasi pada dampak dari proyek ini diidentifikasi dan diperkuat dalam kerjasama yang erat dengan seluruh pemangku kepentingan TVET dan ditindaklanjuti oleh Project Management Unit,”katanya.

 

Dijelaskan dia, kegiatan-kegiatan proyek ini mendukung aspek-aspek sistem TVET yang berorientasi pada permintaan dengan fokus khusus pada kualifikasi guru sekolah kejuruan dalam peranan mereka sebagai ‘agen perubahan’.

 

“Model untuk meningkatkan kompetensi guru dan siswa diujicobakan dan jaringan antara sekolah, para pembuat keputusan di TVET, dan kalangan industri dibentuk dan diperkuat,” terangnya.

 

Masih kata Wanda Moening, hasil melalui kerjasama yang erat dengan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Aceh, telah disusun panduan pengembangan, pelaksanaan dan pemantauan rencana pengembangan sekolah.

 

“Keberhasilan yang lain dari proyek ini adalah diperkuatnya tiga sekolah menengah kejuruan sebagai pusat keunggulan untuk pelatihan berbasis kompetensi dan penilaian siswa,” lanjutnya.

 

Ia yakin keberhasilan dibentuknya forum TVET Aceh akan menjamin peningkatan sistem pendidikan dan pelatihan kejuruan yang berkesinambungan menuju orientasi permintaan yang dapat diukur dengan meningkatnya tingkat kemampuan memasuki dunia kerja dari para lulusan SMK.

 

“Sebagai pimpinan tim SED-TVET untuk Aceh dan Nias, saya bekerja dengan mitra yang memiliki komitmen tinggi dari dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kabupaten/kota, dan sejumlah guru dan kepala sekolah SMK yang penuh semangat dan terlibat secara penuh,” tukasnya.

 

Ia juga membeberkan, rahasia keberhasilan proyek ini adalah kerjasama yang sempurna antara kepala sekolah, tim manajemen SMK, pengawas sekolah, tim manajemen di dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota, dan kalangan dunia usaha.Hanya kerjasama dalam tim inilah yang membuat semua ini menjadi kenyataan.

 

“Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk bekerja sebagai tim untuk membantu kaum muda agar menjadi competent (cakap), confident (percaya diri) dan competitive (berdaya saing) ketika memasuki lapangan kerja,”ucapnya.(Afrizal Wella) 

3,900 total views, 2 views today

Leave a Reply